Anggapan banyak orang bahwa nyamuk adalah penghisap dan pemakan darah tidaklah sepenuhnya benar. Hanya nyamuk betina yang menghisap darah dan bukan yang jantan. Di samping itu, nyamuk betina menghisap darah bukan untuk kebutuhan makan mereka. Sebab baik nyamuk jantan maupun betina, keduanya hidup dengan memakan “nectar”, yakni cairan manis yang disekresikan oleh bunga tanaman (sari madu bunga). Satu-satunya alasan mengapa nyamuk betina, dan bukan jantan, menghisap darah adalah karena darah mengandung protein yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan telur nyamuk. Dengan kata lain, nyamuk betina menghisap darah untuk mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya.
Proses Perkembangan Nyamuk
Proses perkembangan nyamuk merupakan peristiwa yang paling
menakjubkan. Di bawah ini uraian singkat tentang metamorfosis nyamuk dimulai
dari larva mungil melalui sejumlah fase perkembangan yang berbeda hingga pada
akhirnya menjadi nyamuk dewasa.
Nyamuk betina menaruh telurnya, yang diberi makan berupa
darah agar dapat tumbuh dan berkembang, pada dedaunan lembab atau kolam-kolam
yang tak berair di musim panas atau gugur. Sebelumnya, nyamuk betina ini
menjelajahi wilayah yang ada dengan sangat teliti menggunakan reseptornya yang
sangat peka yang terletak pada perutnya. Setelah menemukan tempat yang cocok,
nyamuk mulai meletakkan telur-telurnya. Telur yang panjangnya kurang dari 1 mm
ini diletakkan secara teratur hingga membentuk sebuah barisan teratur. Beberapa
spesies nyamuk meletakkan telur-telurnya sedemikian hingga berbentuk seperti
sebuah sampan. Beberapa koloni telur ini ada yang terdiri dari 300 buah telur.
Telur-telur yang berwarna putih ini kemudian berubah warna
menjadi semakin gelap, dan dalam beberapa jam menjadi hitam legam. Warna gelap
ini berfungsi untuk melindungi telur-telur tersebut agar tidak terlihat oleh
serangga maupun burung pemangsa. Sejumlah larva-larva yang lain juga berubah
warna, menyesuaikan dengan warna tempat di mana mereka berada, hal ini
berfungsi sebagai kamuflase agar tidak mudah terlihat oleh pemangsa.
Larva-larva ini berubah warna melalui berbagai proses kimia
yang terjadi pada tubuhnya. Tidak diragukan lagi bahwa telur, larva maupun
nyamuk betina bukanlah yang menciptakan sendiri ataupun mengendalikan berbagai
proses kimia yang mengakibatkan perubahan warna tersebut seiring dengan
perjalanan metamorfosis nyamuk. Mustahil pula jika sistem yang kompleks ini
terjadi dengan sendirinya. Kesimpulannya adalah nyamuk telah diciptakan secara
lengkap beserta dengan sistem perkembangbiakannya sejak pertama kali ia ada.
Dan Pencipta yang Maha Sempurna ini adalah Allah.
Fase larva
Ketika periode inkubasi telur telah berlalu, para larva lalu
keluar dari telur-telur mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Larva (jentik
nyamuk) yang makan terus-menerus ini tumbuh sangat cepat hingga pada akhirnya
kulit pembungkus tubuhnya menjadi sangat ketat dan sempit. Hal ini tidak
memungkinkan tubuhnya untuk tumbuh membesar lagi. Ini pertanda bahwa mereka
harus mengganti kulit. Pada tahap ini, kulit yang keras dan rapuh ini dengan
mudah pecah dan mengelupas. Para larva tersebut mengalami dua kali pergantian
kulit sebelum menyelesaikan periode hidup mereka sebagai larva.
Jentik nyamuk mendapatkan makanan dengan cara yang
menakjubkan. Mereka membuat pusaran air kecil dalam air dengan menggunakan
bagian ujung dari tubuh mereka yang ditumbuhi bulu sehingga mirip kipas.
Kisaran air tersebut menyebabkan bakteri dan mikro-organisme lainnya tersedot
dan masuk ke dalam mulut larva nyamuk. Proses pernapasan jentik nyamuk, yang
posisinya terbalik di bawah permukaan air, terjadi melalui sebuah pipa udara
yang mirip dengan “snorkel” (pipa saluran pernapasan) yang biasa digunakan oleh
para penyelam. Tubuh jentik mengeluarkan cairan yang kental yang mampu mencegah
air untuk memasuki lubang tempat berlangsungnya pernapasan. Sungguh, sistem
pernapasan yang canggih ini tidak mungkin dibuat oleh jentik itu sendiri. Ini
tidak lain adalah agar dapat bernapas dengan mudah.
Fase Pupa
Pada tahap larva (jentik), terjadi pergantian kulit sekali
lagi. Pada tahap ini, larva tersebut berpindah menuju bagian akhir dari
perkembangan mereka yakni tahap kepompong (pupal stage). Ketika kulit kepompong
terasa sudah sempit dan ketat, ini pertanda bagi larva untuk keluar dari
kepompongnya.
Selama masa perubahan terakhir ini, larva nyamuk menghadapi
tantangan yang membahayakan jiwanya, yakni masuknya air yang dapat menyumbat
saluran pernapasan.
Hal ini dikarenakan lubang pernapasannya, yang dihubungkan dengan pipa udara dan menyembul di atas permukaan air, akan segera ditutup. Jadi sejak penutupan ini, dan seterusnya, pernapasan tidak lagi melalui lubang tersebut, akan tetapi melalui dua pipa yang baru terbentuk di bagian depan nyamuk muda. Tidak mengherankan jika dua pipa ini muncul ke permukaan air sebelum pergantian kulit terjadi (yakni sebelum nyamuk keluar meninggalkan kepompong). Nyamuk yang berada dalam kepompong kini telah menjadi dewasa dan siap untuk keluar dan terbang. Binatang ini telah dilengkapi dengan seluruh organ dan organelnya seperti antena, kaki, dada, sayap, abdomen dan matanya yang besar.
Hal ini dikarenakan lubang pernapasannya, yang dihubungkan dengan pipa udara dan menyembul di atas permukaan air, akan segera ditutup. Jadi sejak penutupan ini, dan seterusnya, pernapasan tidak lagi melalui lubang tersebut, akan tetapi melalui dua pipa yang baru terbentuk di bagian depan nyamuk muda. Tidak mengherankan jika dua pipa ini muncul ke permukaan air sebelum pergantian kulit terjadi (yakni sebelum nyamuk keluar meninggalkan kepompong). Nyamuk yang berada dalam kepompong kini telah menjadi dewasa dan siap untuk keluar dan terbang. Binatang ini telah dilengkapi dengan seluruh organ dan organelnya seperti antena, kaki, dada, sayap, abdomen dan matanya yang besar.
Kemunculan nyamuk dari kepompong diawali dengan robeknya kulit kepompong di bagian atas. Resiko terbesar pada tahap ini adalah masuknya air ke dalam kepompong. Untungnya, bagian atas kepompong yang sobek tersebut dilapisi oleh cairan kental khusus yang berfungsi melindungi kepala nyamuk yang baru “lahir” ini dari bersinggungan dengan air. Masa-masa ini sangatlah kritis. Sebab tiupan angin yang sangat lembut sekalipun dapat berakibatkan kematian jika nyamuk muda tersebut jatuh ke dalam air. Nyamuk muda ini harus keluar dari kepompongnya dan memanjat ke atas permukaan air dengan kaki-kakinya sekedar menyentuh permukaan air.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar