Apa itu penyakit autoimun?
Penyakit
autoimun adalah salah satu penyakit yang hingga kini belum diketahui pasti
penyebabnya dan susah untuk disembuhkan. Penyakit autoimun muncul ketika imun
atau sistem kekebalan tubuh dalam diri yang seharusnya bertugas melawan bibit
penyakit dari luar tubuh malah menyerang jaringan tubuh sendiri.
Sistem kekebalan tubuh atau
disebut sistem imun berfungsi untuk melindungi tubuh dari ‘ancaman’ yang dapat
membahayakan tubuh seperti bakteri dan virus. Sistem imun pada penderita
autoimun tidak bisa membedakan antara jaringan yang sehat dan ‘ancaman’, ‘self’
dan ‘nonself’. Sistem imunnya diaktifkan untuk melawan jaringan sehat
penderitanya sendiri. Penyebab terjadinya kesilapan tersebut hingga saat ini
belum diketahui meskipun beberapa teori telah diutarakan. Teori yang cukup
sering diungkapkan adalah virus sebagai pemicu pada individu yang rentan secara
genetik, namun hingga sekarang teori ini belum dapat dibuktikan betul. Hal ini
bukan berarti penyakit autoimun adalah penyakit menular karena bukan virusnya
yang menyerang dan menjadikan penyakit tapi memicu sistem imun menyerang
sehingga menjadi penyakit. Kelainan genetik telah banyak dibuktikan terkait
dengan penyakit autoimun, namun hanya menyebabkan kerentanan seseorang terkena
penyakit autoimun, sebagai faktor risiko dan bukan sebagai pemicu. Adanya
riwayat keluarga dengan penyakit autoimun bisa membantu mendukung diagnosis
penyakit autoimun pada seorang individu yang dicurigai menderita penyakit
autoimun meskipun tidak sama jenisnya.
Tentunya mau bagaimanapun
juga anda tidak akan sayang dengan penyakit anda, tentu tidak ada seorangpun
yang menginginkan dirinya menjadi sakit apalagi jika seumur hidup. Namun dengan
mengenal penyakit anda, anda akan lebih bisa menerimanya dan hidup dengannya.
Itu adalah langkah awal dalam penanganan penyakit anda. Dalam perkembangan
dunia medis barat, belum didapatkan obat yang dikatakan dapat menyembuhkan
penyakit autoimun, namun penelitian terus dikembangkan untuk itu. Meskipun
begitu, penyakit ini dapat dikontrol dengan obat-obatan yang ada, di
non-aktifkan, ‘di buat tidur’ yang disebut penyakitnya remisi. Jika remisi bisa
dicapai maka progesifitas penyakitnya dapat ditekan atau dilambatkan. Pencapaian
remisi ini tidaklah mudah oleh karenanya penyakit ini lama di derita atau
disebut kronik. Penanganan untuk penyakit autoimun adalah tergantung dari
masing-masing jenisnya. Tiga penanganan utama penyakit autoimun diantaranya
adalah untuk mengatasi gejala atau disebut simtomatik, untuk mengganti zat
vital yang sudah tidak bisa lagi cukup diproduksi tubuh atau mempertahankan
fungsi sistem organ, serta untuk menekan sistem imun penderitanya. Kelainan ini
dapat sebatas jaringan pada suatu organ tertentu atau jaringan pada beberapa
bagian tubuh hingga sistem menyeluruh (sistemik). Tidak jarang seseorang
menderita lebih dari satu penyakit autoimun sehingga membuat kondisi orang
tersebut lebih kompleks. Penyakit autoimun dapat terjadi pada semua
individu di usia berapapun meskipun umumnya lebih sering pada usia produktif
serta lebih sering pada wanita daripada pria.
Peneliti di
National Jewish Health telah menemukan jenis sel yang menjadi peyebab penyakit
autoimun. Temuan ini juga menjelaskan mengapa penyakit seperti Lupus, Multiple
Sclerosis dan Rheumatoid Arthritis lebih sering menyerang wanita dibandingkan
pria.
Peneliti ini dilaporkan dalam jurnal Blood edisi 4 Agustus 2011. Untuk menemukan penyebabnya ini peneliti meneliti sel-sel yang lebih rentan terhadap penyakit autoimun pada tikus betina tua, tikus muda dan tua serta pada manusia.
"Kami percaya temuan sel-sel ini dapat berguna dalam diagnosis dan pengobatan penyakit autoimun, serta dapat membantu memahami mekanisme umum yang mendasari penyakit autoimun," kata Philippa Marrack PhD, Profesor Imunologi di National Jewish Health dan peneliti di Howard Hughes Medical Institute seperti dikutip dari ScienceDaily, (2011).
Beberapa penyakit autoimun termasuk Lupus, Rheumatoid Arthritis dan Multiple Sclerosis menyerang wanita 2 hingga 10 kali lebih banyak daripada laki-laki. Pada awalnya, hormon seks dianggap memainkan peran dalam penyakit autoimun.
Tim peneliti menemukan sel-sel baru ketika memeriksa kromosom X pada tikus jantan dan betina yang sehat. Peneliti menemukan jenis sel B yang belum terdeskripsikan. Sel-sel ini meningkat seiring usia tikus perempuan sehat, tetapi tetap konstan pada tingkat rendah pada tikus jantan yang sehat.
Peneliti memberikan nama untuk sel-sel ini Age-associated B Cell atau ABC. Peneliti juga menemukan tingkat ABC yang lebih tinggi pada tikus tua dan muda yang rentan terhadap penyakit autoimun. Sel-sel ini bisa mendeteksi peningkatan kadar ABC sebelum penyakit berkembang dan bahkan sebelum penyakit auto antibodi ini muncul. Hal ini menunjukkan kemampuan sel-sel ini dalam deteksi dini penyakit.
Ditemukan juga jenis sel yang hampir identik dalam darah pasien autoimun manusia. Pada wanita penderita Rheumatoid Arthritis, kehadiran sel-sel ini meningkat seiring bertambahnya usia. Ketika ABC habis pada tikus, tingkat penyakit auto imun turun. Hal ini memberikan rekomendasi pengobatan yang potensial untuk penyakit autoimun. National Jewish Health telah mengajukan permohonan paten pada metode depleting sel untuk mengobati penyakit autoimun.
"Sel-sel ini tidak hanya lebih sering muncul pada wanita, aktivasi mereka juga tergantung pada dua salinan gen yang dimiliki perempuan. Ini bisa membantu kita memahami mengapa perempuan menderita penyakit autoimun lebih sering daripada pria," kata Anatoly V. Rubtsov, PhD, dari National Jewish Health.
Peneliti ini dilaporkan dalam jurnal Blood edisi 4 Agustus 2011. Untuk menemukan penyebabnya ini peneliti meneliti sel-sel yang lebih rentan terhadap penyakit autoimun pada tikus betina tua, tikus muda dan tua serta pada manusia.
"Kami percaya temuan sel-sel ini dapat berguna dalam diagnosis dan pengobatan penyakit autoimun, serta dapat membantu memahami mekanisme umum yang mendasari penyakit autoimun," kata Philippa Marrack PhD, Profesor Imunologi di National Jewish Health dan peneliti di Howard Hughes Medical Institute seperti dikutip dari ScienceDaily, (2011).
Beberapa penyakit autoimun termasuk Lupus, Rheumatoid Arthritis dan Multiple Sclerosis menyerang wanita 2 hingga 10 kali lebih banyak daripada laki-laki. Pada awalnya, hormon seks dianggap memainkan peran dalam penyakit autoimun.
Tim peneliti menemukan sel-sel baru ketika memeriksa kromosom X pada tikus jantan dan betina yang sehat. Peneliti menemukan jenis sel B yang belum terdeskripsikan. Sel-sel ini meningkat seiring usia tikus perempuan sehat, tetapi tetap konstan pada tingkat rendah pada tikus jantan yang sehat.
Peneliti memberikan nama untuk sel-sel ini Age-associated B Cell atau ABC. Peneliti juga menemukan tingkat ABC yang lebih tinggi pada tikus tua dan muda yang rentan terhadap penyakit autoimun. Sel-sel ini bisa mendeteksi peningkatan kadar ABC sebelum penyakit berkembang dan bahkan sebelum penyakit auto antibodi ini muncul. Hal ini menunjukkan kemampuan sel-sel ini dalam deteksi dini penyakit.
Ditemukan juga jenis sel yang hampir identik dalam darah pasien autoimun manusia. Pada wanita penderita Rheumatoid Arthritis, kehadiran sel-sel ini meningkat seiring bertambahnya usia. Ketika ABC habis pada tikus, tingkat penyakit auto imun turun. Hal ini memberikan rekomendasi pengobatan yang potensial untuk penyakit autoimun. National Jewish Health telah mengajukan permohonan paten pada metode depleting sel untuk mengobati penyakit autoimun.
"Sel-sel ini tidak hanya lebih sering muncul pada wanita, aktivasi mereka juga tergantung pada dua salinan gen yang dimiliki perempuan. Ini bisa membantu kita memahami mengapa perempuan menderita penyakit autoimun lebih sering daripada pria," kata Anatoly V. Rubtsov, PhD, dari National Jewish Health.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar